MERDEKA.COM, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menyelamatkan uang negara sebesar Rp 154 triliun sejak 2009 lalu. Uang yang diselamatkan itu berasal dari sektor migas dan keuangan.

“Ini berkat kinerja korps pencegahan KPK yang mengawasi di sektor penganggaran, sektor barang dan jasa, sebagai bentuk respon Instruksi Presiden (Inpres) No 11 Tahun 2012 didukung BPKP dan dilaksanakan di 33 provinsi dan 33 ibu kota seluruh Indonesia,” kata Ketua KPK Abraham Samad di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/12).

Dia menjelaskan, dari sektor migas sejak 2009 lalu hingga saat ini, KPK menyelamatkan uang negara sebesar Rp 152 triliun. Sementara di lima kementerian mencapai Rp 2 triliun lebih.

“Kita juga fokus untuk melaksanakan mandat koordinasi dan supervisi. Kita semua tahu, korupsi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi pemerintah kita. Kita semua sepakat, korupsi merupakan kejahatan luar biasa, tidak hanya masalah ekonomi, tapi juga aspek sosial dan ekonomi,” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara puncak Hari Antikorupsi se-Dunia dan Hari Hak Azasi Manusia se-Dunia.

Tak hanya itu, prestasi KPK lainnya adalah berhasil mengungkap 332 kasus korupsi dari berbagai daerah. Para pelaku yang berhasil ditangkap dan ditahan KPK memiliki latar belakang yang berbeda, yakni pejabat pusat maupun daerah, kementerian, gubernur, wali kota, duta besar, pejabat eselon 1 dan 2, pejabat hukum hingga para pengusaha.

“Tidak hanya itu, KPK juga menerima 55.954 pengaduan masyarakat, termasuk warga negara Indonesia di luar negeri,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pemberantasan korupsi, KPK juga membentuk unit koordinasi dan supervisi. Unit ini bertugas untuk menjalankan koordinasi dengan sesama instansi hukum nasional, seperti Polri dan Kejaksaan Agung.

“Ini dilakukan untuk memperkuat kemitraan,” singkatnya.